|kampusku hatiku jokok.8m.net|
   
 

Aku adalah Seorang Mahasiswa

Oleh Joko Warsito

Malam pertama Aku di Jogya Aku bermimpi menjadi orang sukses, saat itu yang sedang berlibur di kampung halamanku tepatnya di sebuah di desa di Jawa Tengah. Aku memandang jauh ke sawah-sawah yang padinya sudah menunduk seakan menunggu untuk dipanen sebelum hujan menghantam mereka. Dalam benak pikiranku terbayang ketika Aku bermain layang-layang sampai Aku sudah mampu membantu Bapak memanen padi-padi itu.

Tiba-tiba terselib dalam pemikiranku untuk mengubah pola hidup kampung ini. otak bermain dengan imajinasiku tentang sebuah kawasan industri di Jepang, sebagai calon ahli teknik industri Aku menginginkan kampung ini menjadi sebuah kawasan industri, agar berharap dapat memperbaiki perekonomian warga kampung ini, Aku begitu kasihan dengan kawan-kawanku yang pekerjaannya mabuk-mabukkan karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan selain menunggu panen tiba. Saat sudah membayang kampung ini menjadi sebuah kawasan industri yang besar, hati kecilku ternyata ikut bermain dan mengatakan bahwa Aku ini harus mengenal diriku terlebih dahulu sebelum Aku berpikir mengubah kampung ini. ah... alangkah bodohnya Aku !.

Aku adalah seorang mahasiswa teknik industri yang dipercaya oleh Bapakku untuk belajar dengan harapan Aku mampu menjadi orang yang sukses, lebih dari sekedar kewajibannya untuk membiayai pendidikanku sebagai orang tua, mimpi Bapakku tentang masa depanku adalah kewajiban yang harus sedapat mungkin Aku penuhi.

Sebelum ke Jogya Pakdhe Ponijo memberi sedikit wejangan (artinya: nasehat), beliu berkata padaku bahwa di Jogya Aku harus selalu ingat untuk apa Aku kuliah dan Aku mesti menjadi orang yang berguna setidaknya bagi diri dan keluarg aku. “Nak.... kamu bermimpi mengubah kampung ini, sedang engkau sendiri tidak tahu bagaimana mengubah kampung ini. tanpa engkau mengubahnya, kampung ini akan berubah”. Seorang yang sudah tua berkata padaku sehingga membuyarkan seluruh bayang-bayangku.

Orang tua itu menupuk pundakku dengan tersenyum, kami terlibat dalm pembicaraan yang panjang tentang bagaimana menjadi diriku dan bagaimana mahasiswa menurut orang tua itu. Anggap saja CM adalah Aku, dengan OT adalah orang tua itu.

Etika dan Perilaku

CM : “Apa itu Etika dan perilaku, Pak? Aku tidak pernah tahu pa itu. Yang aku rasakan, bahwa Bapak aku dihormati oleh siapa pun dimana dia berada. Di pertemuan dan perjamuan Bapakku selalu dikurumi oleh orang-orang yang sangat sopan, dan sikapnya seperti mencari muka dan menjilat Bapakku. Saat Bapakku punya gawe (artinya Punya Hajatan), yang datang meluap.”

OT : “ Engkau bisa mempercayai aku, Nak. Tidak ada satu pun jawabanmu yang akan diketahui oleh orang lain, kecuali oleh aku. Coba engkau jawab dari lubuk hatimu yang paling dalam, hatimu akan berkata bagaimana engkau harus beretika dan membawa dirimu. Apakah dengan memberikan sebuah hadiah agar dia membantu engkau dalam mengerjakan tugas, bukankah itu salah? Memberikan selamat kepada anak teladan sehingga di mengingatmu agar suatu saat dia mau membantumu agar engkau selesai kuliah, bukankah itu salah?, engkau bisa menjawab pertanyaanmu sendiri bagaimana engkau harus beretika sebatas engkau mengerti dimana posisimu, Nak”

CM : “Aku mengerti, Pak !. tapi bagiamana aku mengetahui bahwa etika dan perilakuku adalah benar sedangkan aku engkau menuntut agar aku mengetahui posisiku”

OT : “Semua orang di hadapan Tuhan adalah sama, aku yakin engkau mengerti itu. Etika dan perilaku merupakan cermin jatidiri bagi etiap pemikiranmu, Engkau tentu mengerti bagaimana harus bersikap pada seorang anak kecil yang harus engkau beri nasihat dan bagaimana harus bersikap pada Bapak Presiden yang dipercaya rakyat untuk memimpin bangsa ini”

OT : “Saat engkau memahami tentang bagaimana harus beretika dan berperilaku sebagai mahasiswa tentu engkau akan memahami bahwa pola berpikirmu berbeda dengan seorang anak kecil yang selalu menangis meminta ibunya membelikan manisan, dasar berpikirmu berbeda dengan seorang anak TK yang selalu menunggu perintah”

Pola Pikir Mahasiswa

CM : “Katakan padaku, Pak ! pola pikir bagaimana yang harus aku lakukan sebagai mahasiswa seperti yang engkau sebutkan tadi. Apakah mahasiswa harus bisa berpikir untuk menentukan dirinya dimasa yang akan datang ataukah aku harus meninggal perilakuku yang selama ini aku lakukan”

OT : “ Tidak ada yang perlu diubah darimu, Nak ! Mahasiswa adalah kaum intelektual yang selalu bisa berpikir untuk apa dirinya mengembang ilmu dan kemampuannya. Maha itu kan artinya tinggi jadi mahasiswa adalah siswa mampu yang berpikir bagaimana mengaktualisasikan dirinya. Jadi Menjadi mahasiswa bukan sekedar menjadi siswa yang 'maha', yang bukan lagi anak SMA canggung yang tiap hari mengenakan baju yang sama ke sekolah, yang bisa bolos kuliah dan mengatur jam belajarnya sendiri, yang pendapatnya harus dihargai orang tua (karena mahasiswa sudah dewasa dan bukan lagi remaja), yang boleh pulang malam karena jadi aktivis kampus, yang merasa punya hak omong politik serta kritis sana-sini. Status mahasiswa menjadi sebuah kebanggan, karena mahasiswa bukan orang kebanyakan. Mahasiswa memilki strata sosial yang tinggi, bukankah mahasiswa orang yang pertama kali di kenalkan dengan teknologi? karena menjadi mahasiswa berarti punya akses informasi eksklusif (pepustakaan dan kuliah dosen top lulusan negara maju), akrab dengan perkembangan teknologi impor dari belahan lain dunia, dan berkesempatan jadi peneliti – manajer – psikolog – dosen – pejabat – insinyur -pengacara-pengusaha dan calon anggota kelas menengah Indonesia (yang berdasi, bermobil, dan menggenggam handphone). Mahasiswalah yang membuatkan kerangka dasar bagi bangsa ini, ingatlah bahwa pejuang pendiri republik ini seperti Mohammad Hatta, Soekarno, Sutan Sjahrir, Soetomo, Tan Malaka, Agus Salim, Cipto Mengunkusumo adalah beberapa tokoh mahasiswa. Menjadi mahasiswa berarti menjadi anggota sebuah kelas sosial yang intelek dan cendekia. Tapi benarkah? Untuk menjawab pertanyaan ini, apa dan siapa 'intelektual' itu harus diperbincangkan dulu. Kata 'intelektual' berasal dari bahasa latin, interlego atau intellego, yang artinya "memisah-uraikan sambil mengendapkan dalam batin". Menurut arti ini, seorang intelektual harus mampu berpikir mendalam, menghayati sesuatu. Sebuah tugas yang butuh kekayaan batin sekaligus ketajaman berpikir. Proses "memisah-urai dan mengendapkan" ini pada hakekatnya adalah pencarian kebenaran. Dengan demikian, seorang intelektual adalah pencari dan kekasih kebenaran. Seperti Socrates, filsuf besar Yunani kuno, yang memilih mati menenggak racun. "Sekali-kali takkan aku mengubah haluan, meski harus mati berkali-kali," jawabnya ketika diberi kesempatan untuk mendapat ampunan pengadilan dengan syarat tidak lagi bertanya dan berspekulasi. Ia membela kebebasannya sebagai seorang intelektual. Tapi ingat ingat tidak setiap mahasiswa bahkan sarjana memiliki gairah menggelora akan ilmu (kebenaran) sekaligus memiliki imunitas terhadap godaan dan ancaman kekuasaan. Dengan demikian tidak setiap mahasiswa bakal menjadi intelektual. Dari kacamata lain, mahasiswa jauh dari sosok patriot kampus pembela rakyat dan kebenaran (seperti dalam bayangan Soe Hok Gie) dengan panji-panji "kepeloporan intelektualnya" dan kehidupan kampus, yang sering dianggap sarang kaum intelektual, seringkali tidak semegah gaungnya ”

CM : “ Dari ceritamu berarti mahasiswa adalah tulang punggung bagi bangsa ini, lalu bagaimana mahasiswa mengembangkan ilmunya untuk masyarakat?”

OT : “ Engkau sedikit demi sedikit akan mengerti, Nak. Mahasiswa adalah calon masyarakat, mahasiswa adalah cermin masyarakat, mahasiswa yang akan membangun masyarakat, dan mahasiswa akan mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Hal itu akan terwujud apabila dalam diri mahasiswa dibangun sikap kritis yang peduli terhadap permasalah yang terjadi di sekitarnya”

 

Pengembangan Ide dan Pemikiran

CM : “Aku sedikit bisa mengerti, Pak. Mahasiswa mempunyai kebebasan dalam mengembangkan ilmu dan mengimplemtasikan seluruh pemikiran serta idenya untuk kemajuan masyarkat dan dirinya.”

OT : “ Benar yang engkau katakan, Nak. Aku yakin engkau sudah mulai mengerti. Pada dasarnya kehidupan mahasiswa di masyarakat kampus (campus society) benar-benar diberikan keluasan untuk belajar mengembangkan diri, dan sebagai mahasiswa berperan atas masa depan studinya sendiri”

OT : “ Mahasiswa harus melatih daya kreativitasnya dalam mengimplementasikan seluruh ide yang muncul dari pengetahuan yang didapat. Mahasiswa selalu berpikir maju untuk berkarya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sebagai contoh mahasiswa menghasilkan teknologi baru untuk sistem sirkulasi penanaman di sawah, mahasiswa menciptakan teknolgi informasi sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat. Ketahuilah, Nak ! jika kita tidak pernah berhenti berusaha ide dan kreativitas selalu ada. Tapi sayang Nak, mahasiswa dan anak muda sekarang ini hanya dapat berkarya kalau hatinya sedang enak, mereka memilih diam ketika suasana hatinya tidak enak daripada memobilisasi dirinya untuk bergerak kearah yang lebih yang berguna. Paling-paling ngisep ganja, mabuk-mabukan, pacaran, dan apalah yang dapat membuat pikiran berhenti. Mahasiswa harus tetap terus berkarya dan mengahasilkan karya yang berguna bagi masyarakat”

Karier adalah Target Terakhir

CM : “ Engaku sudah menjelaskan dimana kedudukan, tugas, dan fungsiku, lalu bagaiman dengan diriku sendiri, Pak ! apakah salah jika berharap esok hari aku menjadi orang yang sukses setidaknya menduduki kelas menengah seperti yang engkau katakan tadi.”

OT : “ Jangan khawatir, Nak! Jika engkau sudah bisa memahami dengan sendirinya engkau sudah berbuat untuk masa depanmu. Sekarang tinggal bagaimana engaku melatih dirimu, di kampus tersedia banyak komunitas (atau Organisasi) yang akan siap membantumu, tinggal engkau memilih mana yang sesuai dengan dirimu dan disitu engaku bisa mengembangkan dirimu. Perlahan engaku akan dilatih bagaimana merencanakan sesuatu, bertanggungjawab, bersosialisasi, bermasyarkat, kepemimpinan yang baik, dan bagaimana mengembangkan karier”

OT : “ Sekarang bangunlah, kampus sudah menunggumu dengan 1001 kompleksitas yang harus engkau pecahkan, bangunlah, Nak!”

Perlahan aku membukakan mataku sehingga akhirnya sadar bahwa telah bermimpi, aku masih mengingat seluruh nasihat orang tua itu, “Selamat pagi Indonesia, selamat pagi kampusku”.

 

   
 
Download Flash MX Download Internet Explorer 6+ Download Mozzila Firefox
  © 2004 Joko Warsito. Personal Website.
  Curriculum Vitae | E-mail | Webhosting Support